Sejarah
Tradisi ini dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadhan. Oleh karenanya, Tradisi Misalin ini juga dikenal dengan tradisi Mapag Ramadhan. Tradisi ini dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat sekitar karena selain merupakan kekayaan budaya tak benda, juga memiliki nilai-nilai kearifan lokal, yang penting untuk diketahui dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat secara umum. kegiatan mirsalin Tradisi ini dilakukan di area Situs Bojong Salawe. Misalin secara harfiah berarti melakukan pergantian menuju kesejahteraan hidup lahir dan batin. Misalin terdiri dari dua kata yaitu mi dan salin. Mi berarti suatu kegiatan yang ada perubahansedangkan salin berarti ganti. Misalin berarti suatu kegiatan berganti dari yang buruk ke arah yang baik. Kegiatan Misalin ini juga merupakan kegiatan membersihkan lingkungan, juga sebagai pembersihan diri untuk menyambut bulan Ramadhan. Kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi dan saling memaafkan antar manusia dengan manusia sebelum menginjak bulan Ramadhan.
Tradisi tahunan ini telah dilakukan masyarakat secara turun-temurun di sekitar situs Petilasan Sang Hyang Cipta Permana Prabu di Galuh yang berada di Dusun Tunggarahayu, Desa Cimaragas, Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis. Pada tradisi ini, masyarakat bergotong royong membersihkan makam leluhur, sekaligus berdoa di tempat tersebut, untuk menyucikan diri.
Selain memiliki arti secara harfiah, tradisi Misalin memiliki makna yang tersirat yakni memagari diri dari berbagai hawa nafsu jahat saat memasuki bulan Ramadhan, juga memiliki makna yaitu beralih dari perilaku yang buruk ke perilaku yang baik. Dan ketika memasuki bulan Ramadhan hati kita sudah bersih ataupun suci. Tradisi menjelang bulan Ramadhan tersebut selain diikuti oleh masyarakat Cimaragas, tetapi juga diikuti oleh masyarakat dari wilayah lain. Dan setiap tahunnya selalu dihadiri oleh para sesepuh dari berbagai daerah.
Proses Pelaksanaan Misalin
Sebelum pelaksanaan tradisi Misalin diadakan, masyarakat Salawe terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu hal untuk pelaksanaan tradisi Misalin. Dalam hal peralatan mulai dipersiapkan seperti bambu, janur (daun kelapa yang masih muda), damar (sebagai alat penerangan tradisional untuk ritual Ngadamar), pontrang (wadah yang terbuat dari daun kelapa untuk dijadikan wadah makanan). Kemudian untuk pentas seni budayanya, kesenian yang ditampilkan adalah seni Bangbaraan, Pontrangan, Pencak Silat, dan Seni Rudat. Sebelum dilaksanakan acara inti Tradisi Misalin, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan ritual Ngadamar yang dilaksanakan malam hari sekitar pukul 20.00 WIB. Setelah semua tamu undangan telah hadir, acara mulai dilaksanakan dari alun-alun menuju ke lokasi situs Bojong Salawe, setelah sampai di lokasi situs ada pembacaan rajah, kemudian tawasulan (memanjatkan do’a-do’a), tepatnya di area Pamidangan. Tawasulan ini juga sebagai bentuk do’a agar esok hari diberikan kelancaran. Selain itu juga dibacakan pula rajah.Setelah tawasulan dan juga pembacaan Rajah berakhir, kemudian masyarakat melakukan iring-iringan menuju ke pinggir sungai Citanduy yang disebut Parung Ayu. Di sana diadakan acara menuangkan air yang berasal dari 7 sumber mata air keramat yang dimasukkan ke sebuah wadah besar yang esok hari juga akan digunakan untuk acara kuramasan. Air tersebut berasal dari Karangkamulyan, Jambansari, Kawali, Singaperbangsa 3, Mata Air Nusantara, Pancawarna Salawe, dan Lakbok. Air yang berada dalam lodong tersebut dituangkan ke dalam sebuah wadah yang disebut Gentong Kencana.
Setelah itu, di Parung Ayu juga ada sambutan dari perwakilan Direktorat Jenderal Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi dilanjutkan sambutan dari perwakilan Dinas Pariwisata kabupaten Ciamis. Kemudian Abah Latif (sebagai tokoh Situs Bojong Salawe) membacakan Pasaduan. Pasaduan berarti meminta ijin. Pembacaan Pasaduan ini bermaksud untuk meminta ijin untuk kelancaran acara tradisi Misalin yang akan dilaksanakan esok hari. Setelah selesai acara di Parung Ayu, semua iring-iringan kemudian kembali ke alun-alun, menandakan berakhirnya acara Ngadamar. Pada esok harinya sekitar pukul 07.00 WIB masyarakat sudah berkumpul, dan kemudian mempersiapkan untuk acara iring-iringan dari pintu masuk menuju Lembur Salawe/situs Bojong Salawe, dari iringan-iringan tersebut terdapat para tamu undangan, ibu-ibu membawa boboko yang di dalamnya terdapat pontrang yang sudah diisi makanan.
Setelah selesai tawasulan, masyarakat kemudian meninggalkan Situs Bojong Salawe dan mulai bergerak menuju ke alun-alun. Dan ketika sampai di alun-alun ada upacara adat mapag tamu. Upacara adat mapag tamu diadakan untuk menyambut tamu-tamu yang datang dengan memakaikan kain iket khas Ciamis. Acara dimulai dengan pembukaan ayat-ayat suci Alqur’an dilanjut dengan sambutan-sambutan. Setelah itu, sebagai acara penutup, pagelaran seni dipentaskan bersamaan dengan acara menikmati hidangan yang tersedia dalam pontrangan (wadah makanan yang terbuat dari daun kelapa).Nilai-Nilai Kearifan Lokal Tradisi Misalin, yang pertama adalah nilai religi, gotongroyong, pengetahuan sejarah, seni, dan ekonomi
Nilai, Fungsi dan Makna
Nilai-nilai kearifan lokal tradisi Misalin, nilai religi hakikatnya, tradisi ini adalah memohon keselamatan kepada Allah SWT (Tuhan YangMaha Kuasa). Tradisi Misalin merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain ungkapan syukur, Tradisi Misalin juga dipenuhi oleh kegiatan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dapat mencapai keselamatan hidup. Do’a-doa dipanjatkan dalam bahasa Sunda dan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan harapan supaya masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar, sehat, selamat, terhindar dari segala gangguan yang dapat membatalkan puasa. Semua ini sebenarnya menggambarkan budi pekerti Sunda yang selalu memproses diri melalui penyucian diri untuk memohon kepada yang Maha Kuasa. Wujud pengabdian dan ketaatan tersebut ditunjukkan oleh masyarakat dalam Tradisi Misalin melalui pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan do’a-doa. Nilai Gotong Royong Prosesi Tradisi Misalin tidak dapat berjalan lancar jika masyarakat hanya bekerja sendiri-sendiri. Mereka harus dapat bertanggung jawab, bermusyawarah, menjaga kerukunan dan gotong-royong, serta melestarikan alam. Dengan begitu, tumbuh solidaritas di antara mereka sehingga tidak akan menemukan masalah yang berarti saat mempersiapkan acara Tradisi Misalin sebagai salah satu upaya penghormatan terhadap leluhur.Rasa sosial, kesatuan, dan persatuan sangat diperlukan agar Tradisi Misalin tetap langgeng.Berbagai generasi, kakek dan nenek, ayah dan ibu, hingga anak-anak turut bekerja keras demi kelangsungan tradisi yang mereka miliki. Pagelaran seni yang ditampilkan dalam acara Tradisi Misalin terdiri dari beberapa pertunjukkan, di antaranya Bangbaran, Kolotokan, Pencak Silat,Rudat, Karinding, Pontrangan, dan Bajidor. Pertunjukkan seni ini oleh masyarakat dijadikan sebagai sarana hiburan. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman estetis pada penonton. Biasanya penonton melihat kesenian ini bertujuan untuk melepas lelah, menghilangkan stres, dan bersantai disela-sela kesibukan bekerja.Selain sebagai sarana hiburan, seni juga berfungsi untuk (1)pemanggilan kekuatan gaib; (2)penjemput roh-roh untuk hadir ditempat pemujaan; (3) memanggi lroh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat; (4) peringatan pada nenek moyang dengan menirukan kegagahan maupun kesigapannya;(5) pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang; (6) pelengkap upacara sehubungan dengan saat-saat tertentu dalam perputaran waktu; (7) pewujudan daripada dorongan untuk mengungkapkan keindahan semata. Nilai Sejarah Tradisi Misalin ini tidak lepas dari nilai sejarah karena dalam perjalanan kesenian tersebut berlangsung secara turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya. Tradisi Misalin hidup dalam pikiran masyarakat dan dianggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup mereka. Nilai budaya menuntun sikap dan memberi arahan pada hidup masyarakat layaknya leluhur mereka, menghormati tradisi yang ada agar mereka mendapat keselamatan dan kesejahteraan dalam hidup. Perilaku yang berdasarkan pada budaya dirasa perlu di zaman modern seperti sekarang. Hal ini bertujuan agar generasi muda bangsa Indonesia tidak lupa akan jati dirinya. Melalui pelestarian warisan budaya lokal,maka generasi yang akan datang dapat belajar dari warisan-warisan itu dan menghargainya sebagaimana yang dilakukanpendahulunya. Seperti fungsisejarah secara ekstrinsik dapatdikemukakan salah satunya adalahuntuk pendidikan (edukasi), baikitu pendidikan moral, penalaran,perubahan, keindahan, rekreasi,dan lainnya. Nilai EkonomiTradisi Misalin, memiliki nilai ekonomi karena pelaksanaannya menjadi aset pariwisata bagi Kabupaten Ciamis.Tidak hanya pemerintah saja yang merasakan dampak finansial positif, tetapi juga masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, dapatdiketahui bahwa pelaksanaanTradisi ini mengandung nilai ekonomi. Nilai ini dipercaya dan dijadikan mata pencaharian hidup bagi masyarakat sekitar agar mereka mendapatkan rezeki yang berlimpah. Masyarakat di sekitar situs umumnya menjadi pedagang makanan dan minuman. Hal ini dilakukan masyarakat demi memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pendapatan mereka. Tradisi Misalin yang merupakan acara tahunan dapat menjadi aset Pemerintah DaerahKabupaten Ciamis di sektor pariwisata.
SIMPULAN
Tradisi Misalin merupakan tradisi yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya menjelang bulan Ramadhan. Sebelum kepada acara tradisi Misalin, masyarakat salawe terlebih dahulu melaksanakan Ngadamar pada malam harinya.Tradisi Misalin diawali dengan masyarakat berjalan kaki beriringan menuju lokasi situs.Kemudian sebelum menginjak keacara inti dari tradisi Misalin yaitu Tawasulan, maka terlebih dahulu diadakan Kuramasan di Parung Ayu yang berada di pinggir sungai Citanduy. Setelah selesai Kuramasan, dilanjutkan dengan Tawasulan untuk mendoakan para leluhur, khususnya leluhur Situs Bojong Salawe. Setelah selesai Tawasulan, dilanjutkan dengan Musopahah sebagai akhir dari acara inti tradisi Misalin. Selain acara intidari tradisi Misalin, tradisi Misalin pada tahun ini juga ditambahkan dengan pentas seni budaya tradisional mulai dari Seni Bangbaraan, Pontrangan, Pencak Silat, dan yang lainnya. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung didalam Tradisi Misalin antara lain nilai religi, gotong royong, seni,sejarah, dan ekonomi. Nilai-nilai kearifan lokal tersebut relevan sepanjang masa sehingga bermanfaat bagi generasi yang mendatang.