Tari Srimpi di Pura Mangkunegaran biasanya diawali dengan kata “mandra” seperti Mandrarini, Mandrakusuma, dan Mandraretno. Beksan/Tari Srimpi Mandrarini sendiri adalah ciptaan atau Yasan Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Mangkunagoro VII (Tahun 1885 - 1944), dalam menggambarkan ratu (raja putri) yang berperang dengan ratu raja putri yang lain, para patih yang turut serta dalam peperangan tersebut juga para perempuan. Tari Srimpi Mondrorini ditarikan oleh 4 (empat) orang penari putri. Bilangan 4 (empat) sendiri dalam falsafah Jawa merujuk pada keempat arah mata angin (Timur, Selatan, Barat dan Utara), atau bisa juga diartikan menggambarkan 4 watak manusia yaitu Mutmainah (yang berhubungan dengan Tuhan) , aluamah (gulu), amarah (dada), Supiah (organ reproduksi).
Selain jumlah penari yang berjumlah 4 (empat) orang, ciri khas lain dari tari serimpi adalah gerakan dan kostum yang sama dengan karakter wajah tenang. Dalam tarian ini juga terdapat adegan perang yang menggambarkan keprajuritan dengan unsur kegagahan meskipun diperankan oleh perempuan. Kostum yang digunakan berwarna hijau kuning yang mengacu pada bendera atau panji Pura Mangkunegaran. Warna hijau kuning ini selain digunakan penari Srimpi Mandrarini juga dikenakan penari Gambyong Pareanom. Tari srimpi merupakan jenis seni pertunjukan tari klasik yang cenderung berkonotasi rumit, memiliki standar dan acuan tinggi, dengan tingkat keindahan tersendiri sehingga secara filosofis mampu mendefiniskan tingkat kecanggihannya. Tari serimpi yang tumbuh dan berkembang di Pura Mangkunegaran memiliki perbedaan gaya dengan serimpi yang berkembang di Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Srimpi Mangkunegaran memang memiliki perberbedaan dengan srimpi-srimpi yang lain karena di situ terdapat gerak tari maju beksan, ada gerak tari serimpi, tapi juga ada gerak tari perang yang memakai keris atau cunduk dan panah. Hal memberikan gambaran bahwa di Mangkunegaran banyak diilhami dengan gerak-gerak tari prajurit (prajuritan). Pada dasarnya bentuk gerakan pada tari srimpi memiliki kesamaan satu dengan yang lainnya, tetapi dalam tari Srimpi Mandrarini gerakan perangnya memakai properti nyata seperti memakai keris dan panah.
Iringan gending terutama untuk Serimpi Mandrarini dan sejenisnya yang pertama adalah padesan. Setelah itu lalu odo-odo, dengan menggunakan geprak cek-cek dan diteruskan dengan gending mulai dari sampak atau slepekan. Selanjutnya masuk bukosuoro yang biasanya bentuk ladangan dan yang terakhir terakhir ayak-ayakan. Terdapat perbedaan kesimpulan dalam hal awalan gending pada tari serimpi. Ada yang berpendapat bahwa gending dulu baru kemudia tariannya diciptakan namun ada juga yang berpendapat sebaliknya. Durasi tampil Serimpi Mandrarini berkisar 15-20 menit sedangkan serimpi-serimpi yang lain bisa mencapai 40 menit. Pada jaman dahulu tari serimpi instana disajikan dengan durasi sekitar satu jam dengan tujuan dan fungsi yang khusus seperti penyambutan tamu istana, peringatan acara-acara khusus. Namun demikian tari Serimpi Mandrarini bukan tergolong tari sakral seperti tari Jawa klasik yang lain sehingga siapapun yang berminat dapat belajar tari serimpi.
Penyajian Tari Srimpi dicirikan dengan gerakan gemulai empat penari yang menggambarkan kesopanan, kehalusan budi, dan kelemahlembutan. Nilai-nilai tersebut ditunjukkan dalam gerakan tari yang pelan dan anggun serta diiringi dengan alunan musik gamelan.
Pada dasarnya, ada tiga jenis gerakan inti yang disajikan dalam tarian ini, yaitu :
1. Gerak Maju Gawang
Gerak maju gawang adalah gerak jalan menuju tempat pentas dengan sikap jalan tertentu, lalu diakhiri dengan sikap duduk. Gerakan ini bisa dibilang adalah gerakan pembuka pada tarian.
2. Gerak Pokok
Gerak pokok merupakan gerakan inti yang disajikan dalam tarian yang menyesuaikan dengan tema tarian. Apabila tariannya berupa tarian perang, maka gerak pokok yang disajikan menyimbolkan peristiwa peperangan antara dua kubu
3. Gerak Mundur Gawang
Berkebalikan dengan gerak maju gawang, gerak mundur gawang adalah gerakan berjalan meninggalkan tempat pentas. Gerakan ini menandakan akhir dari pementasan Tari Serimpi.