Metode Sariswara memuat berbagai pelajaran yang dapat disampaikan kepada anak, seperti pengajaran sejarah, bahasa, dan budi pekerti yang disatukan, yang dimulai dengan pelajaran seni suara. Metode ini mengajak anak didik menerima “pelajaran tentang hidup” melalui bahasa, tembang, dan gerak tari. Yang dimaksud dengan pelajaran tentang hidup di sini adalah suatu hal yang dilihat dan didengar, yang memengaruhi pikir dan rasa anak sehingga tergerak untuk menimbang baik-buruk serta salah dan benarnya. Pesan pelajaran hidup ini tertuang di dalam syair dan dibungkus dengan wirama tembang. Disebutkan oleh Dewantara bahwa wirama memiliki daya kekuatan, antara lain, memudahkan pekerjaan jasmani dan memajukan kecerdasan jiwa. Contohnya adalah seseorang dapat mengerjakan pekerjaan dengan mudah (tidak lekas lelah) berkat “bermain wirama”, misalnya menumbuk padi sembari mengetuk lesung dengan anak lesung, begitu pula ketika berbaris diiringi tambur dan musik.
Awal Munculnya Metode Sariswara
Membangun watak TRIKON ini merupakan tujuan pembentukan karakter thes budi-pekerti seorang manusia indonesia. Maka digagaslah Metode Sariswara oleh KHD. Metode ini tidak muncul begitu saja, namun memiiki sejarah panjang, jauh sebelum KHD mendirikan Perguruan Tamansiswa. Titik permulaan benang merahnya mulai menyiratkan ruh-nya berawal saat beliau dibuang ke negeri Belanda. Kala menyenandungkan tembang ""Kinanti Sandung"" sebagai hadiah ulang tahun istrinya di atas kapal menuju ke negri pembuangan. Sesampainya di Belanda, muncullah gubahan notasi titilaras gamelan tembang tersebut ke diatonik not balok piano. Inilah awal mula konsep konvergensi yang langsung dipraktekkan KHD. Beliau melakukan upaya agar budaya luhur yang dimiliki bangsa kita mampu berdiri sejajar dengan musik-musik klasik yang sudah berlaku dan dihormati di tanah Eropa, tanpa harus kehilangan cirikhas/jati dirinya (konsentris). Ketika pulang mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa, KHD yang telah lulus dan mendapatkan sertifikat mengajar di Belanda, juga berhasil menyerap berbagai teori tokoh pedagogi dunia. Beliau menemukan bahwa metode pendidikan nenek-moyang kita ternyata jauh-jauh hari telah mempraktekkan teori-teori yang beliau pelajari itu. Gabungan teori Montessori, Frobel, Steiner, Dalcroze utamanya, mampu membuka pikiran KHD akan keunggulan metode pendidikan bangsa sendiri. Hampir sema elemen yang diisyaratkan para pesohor pedagogi dunia itu termuat dalam cara keseharian mendidik anak di masyarakat Indonesia secara tradisional.
Namun tak berhenti disitu, KHD sangat penasaran, kepiawaian nenek moyang kita dalam mendidik anak secara tradisional apakah tidak berdasarkan sebuah teori seseorang? Maka kita ditelusuri, KHD menemukan sebuah terosi aslimilik bangsa sendiri, yang termuat dalam ajaran ""Sastra Gendhing"" milik Sultan Agung. Ajaran yang menyatakan pentingya dua potensi dam tirik ter pisan. i limaksimalkan secara inesamal, Sementara ""Gending ari seik mas-aati. Yang keduanya harus sering seialan peningkatanya marnusia seasa kanak-kanak hingsa usia dewasa yang menjadikany or isla kepurna ""janma kang
usama Maka berbekal penajaman teori tulah emudian salah satunya divujudkan calam praktek pemakaian permainan tradisional kanak-Kanak di perguruan Tamansiswa. Ini menjadi salah satu dasar utama dalam menanamkan wata wata TRIKON yang beliau gagas (Dewantara, Bahkan pada tahun 1926, jauh sebelum Indonesia merdeka, Direktur Department Onderwijs en Eeredienst, J. Harderman, setelah berkunjung dan mempelajari metode ini, memutuskan pelajaran dengan permainan tradisional anak gagasan KHD ini dipakai di semua sekolah rakyat gupermen (sekolah pemerintah kolonial Belanda). Inilah awal mula KHD bekerjasama dengan J.B. Wolters menerbitkan buku ""Sariswara"" yang memuat pelajaran lagu-lagu kanak-kanak (Dewantara, 1959; 298).
Dasar Teori Metode Sariswara
Serapan teori Pedogagi KHD kala di Belanda membawa beliau pada beberapa kesimpulan mendalam terkait pemanfaatan Metode Sariswara. Unsur utama dari metode ini adalah penggabungan tiga pelajaran seni, bahasa indah / sastra - lagu - cerita. Pemanfaatan pelajaran kesenian tak lepas dari fungsi keindahan dan kehalusannya bagi penegasan watak aesthetis manusia yang secara kodrati telah ada. Watak yang senantiasa cenderung kepada keindahan dan kehalusan budi. Gerak jiwa yang dituntun oleh pelajaran kesenian memiliki karakter khusus yaitu tidak meminta tapi memberi manfaat; selalu fokus hanya untuk mencari Kebahagiaan (Dewantara, 1941; 335). Dalam pendalamannya watak KONSENTRIS yang disasar oleh KHD di usia 3-7/9 tahun, yang disebut masa wirago. Masa awal mula jiwa terbuka pertama kali, saat terbentukya centra kehidupan (otak). Apapun yang diserap di usia itu akan diingat seumur hidupnya. Saat tepat menyiapkan ""wadah"" bagi masa berikutnya, masa wiraga wirama dan masa wirama penuh. Membimbing jiwa anak mengenali diri akan kebenaran hakiki (pelajaran Sastra Gendhing Sultan Agung) untuk mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga jiwanya selalur tertuntun untuk memutuskan pada keenderungan watak-watak kebaikan. KHD berpegangan bahwa jiwa anak itu secara kodrati ibarat kertas putih yang sudah ada tulisan namun mash samar-samar (antitabularasa). Ada tulisan watak bainya namun juga ada tulisan watak buruknya. Maka tugas awal pendidikan adalah menegaskan tulisan-tulisan watak baiknya, sekaligus mengaburkan tulisan watak buruknya, tidak bisa menghilangkan sama sekali (Dewantara, 1940; 446). Usaha menebalkan watak baik adalah usaha menumbuhkan budi pekerti luhur. Dan sumber budipekerti adalah sifat keindahan jiwa. Sifat keindahan jiwa (aesthethik) sangat berkait erat dengan usaha menertibkan panca indra. Dalam usahanya, maka aesthetik itu bermaksud mendekatkan manusia, baik kepada segala sifat keindahan yang berupa usaha kesenian dalam arti yang seluas-luanya, maupun mendekatkan hidup manusia dengan segala sifat indah, yang tampak dalam alam semesta, menuju kepada perkembangan budi-pekerti (Dewantara,1950;70). Disinilah Metode Sariswara digagas untuk memasukkan segala wujud puncak keluhuran (watak kebaikan) manusia Indonesia melalui kesenian daerahnya (dari pribadi yang unik, keluarga yang khas, suku bangsa yang khas dan bangsa yang khas pula) seperti yang telah diuraikan sebelumnya.