Kupiah Meukutob
Kisah perjuangan Teuku Umar yang merupakan pahlawan kebanggaan Indonesia dari Aceh menyisakan kenangan yang terus diingat dari generasi ke generasi. Dua di antaranyasemakinpopulersaatini, pertama: menjelangsyahidnya, Teuku Umar pernahmengatakan: “Subuh nanti kita minum kopi di Meulaboh atau mati syahid”, kedua: tentunyapenutupkepalaTeuku Umar yang tidakpernahlekangsepanjang masa perjuangannya, sampai sekarang menjadi penutup kepala pengantin laki-laki yang disebut Kupiah Meukeutob.
Kendati popular sebagai KupiahTeuku Umar, tentu tidak berarti bahwa Kupiah Meukeutob berasal dari Meulaboh, sama halnya dengan fakta bahwa Teuku Umar juga bukan orang Meulaboh. KupiahMeuketob merupakan karya budaya khas masyarakat Pidie. Menurut kajian yang ditelusuri oleh KomunitasPakaian Aceh dan Yayasan Pedir Museum di Pidie, pada awalnya Kupiah Meukeutob merupakan bagian dari pakaian hari anmasyarakat Pidie, tentu nyatidak utuh dengan wujud Kupiah Meukeutob saat ini. Kupiah tersebut dikenal dengan sebutan Kupiah Kop yang berarti kupiah dari Tungkop. Artinya Kupiah tersebut dibuat oleh masyarakat Tungkop, salah satudesa di Kecamatan Indra Jaya Kabupaten Pidie. Bentuknya bulat seperti lobe. Kupiah ini biasanya dipakai sebagai peci, penutup kepala untuk ke masjid dan menunaikan ibadah serta menghadiri kegiatan adat seperti takziah, musyawarah adat, dan sebagainya.
Adapula yang menyebutnya dengan sebutan Kupiah Syam, bentuknya lebih tinggi, mirip peci atau penutup kepala dalam tarian sufi dari Negeri Timur Tengah. Kupiah Syam dalam hal ini juga dimaknai sebagai kupiah dari Negeri Syam, negeri yang dimuliakan dalam ajaran Islam.
Kedua jenis kupiah inilah yang kemudian diberi hiasan dan kelengkapannya bertrans formasi menjadi Kupiah Meukeutob, kupiah kebesaran para raja, termasuk pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa kesultanan, Kupiah Meukeutob menunjukkan status sosial. Hanya mereka yang menduduki jabatan tinggi dan bangsawan yang dapat memakainya.
Baru dinamakan Kupiah Meukeutob ketika kupiah itu diberihiasan tampok berbentuk bintang bersusun terbuat dari emas, perak atau suasa yang disepuh dan diberi permata. Kupiah dilapis kain teungkulok yang dilipat menjadi segitiga dan diikat melingkar serta diber ihiasan bunga di pertemuan kedua ujungnya, ujungnya dipastikan mencuat keatas atau disebut tumpak. Lalu hiasan priek-priek sebagai rumbai-rumbai disangkutkan di sisikanan yang juga terbuat dari emas dan hiasan permata dengan bentuk daun yang saling berkait menyerupai daun sukun.
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sebuah kupiah Meukeutop, yaitu kain tetron warna hijau, kuning, merah, hitam, kain satin yang warna putih, kapas, benang jahit satu gulung, sedikit tepung kanji.
Jenis peralatan yang biasa digunakan untuk membuat Kupiah Meukeutop yaitu alat untuk menggulung kapas yang tebuat dari bambu, panggang (alat untuk menjepit kain pada saat dijahit, terbuat dari bambu).
Proses pembuatan sebuah Kupiah Meukeutop memerlukan ketekunan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, untuk membuat sebuah penutup kepala laki-laki orang Aceh jenis ini biasanya dikerjakan secara bersama-sama oleh para perajin. Sebagian mengerjakan lapisan luar kupiah, sebagian yang lain melanjutkan hingga selesai. Adapun cara pembuatan kupiah Meukeutop, yaitu pertama-tama kain tetron dibasahi dengan air kanji yang encer lalu dijemur hingga kering. Setelah kering, kain tersebut kemudian di potong atau digunting kecil-kecil dengan ukuran sekitar 1 cm persegi. Selanjutnya potongan-potongan kain kecil tersebut disatukan dengan cara dijahit berderet-deret menurut susunan yang diinginkan. Bentuk rangkaian seperti ini disebut dengan keunarang. Keunarang tersebut kemudian dipotong-potong lalu dijahit menurut susunan motif yang dikehendaki sehingga terbentuklah bagian yang merupakan bagian dari Kupiah Meukeutob yang biasa disebut peuneukap.
Setelah peuneukap jadi, proses selanjutnya adalah membuat dulun atau gulungan kapas. Cara membuatnya adalah kapas terlebih dahulu dibersihkan dari biji dan sampah lainnya lalu digulung kecil-kecil sehingga membentuk batangan-batangan kapas dengan diameter 1 cm dan panjangnya sesuai ukuran peuneukap. Selanjutnya, peuneukap diisi dengan dulun lalu dilapisi dengan kertas koran dan kain putih pada bagian dalam peuneukap tersebut. Dengan demikian, pembuatan badan Kupiah Meukeutob secara keseluruhan dianggap selesai.
Proses selanjutnya adalah pembuatan bagian puncak kupiah Meukeutop. Cara membuatnya sama seperti membuat peuneukap. Hanya saja yang digunakan untuk membuat bagian puncak Kupiah Meukeutob ini adalah benang putih (benang jermai) atau biasa disebut ikat kulah. Untuk memberi keindahan pada bagian puncak kupiah ini biasanya dihiasi dengan jahitan benang dalam posisi vertikal atau biasa disebut bagia. Pemberian hiasan atau bagia ini merupakan proses akhir dari pembuatan bagian puncak kupiah Meukeutop.
Proses yang pembuatan Kupiah Meukeutop yang terakhir adalah menyatukan bagian badan atau peuneukap dengan bagian puncak kupiah. Kedua bagian tersebut kemudian disatukan dengan cara dijahit dengan benang. Meskipun Kupiah Meukeutop dianggap telah jadi, namun masih memerlukan sentuhan akhir yaitu dilap dengan kain basah untuk menghilangkan sisa kapas yang masih melekat pada kupiah tersebut. Setelah itu, kupiah dijemur seperlunya dan siap untuk digunakan.
Kupiah Meukeutop bukan sekadar penutup kepala bagi kaum laki-laki di Aceh. Kupiah tersebut merupakan karya seni yang mengandung nilai estetika dan nilai filosofis. Nilai-nilai tersebut terlihat jelas pada warna dan desainnya menurut pemahaman masyarakat Pidie; warna merah yang memiliki simbol keberanian warna kuning simbol kebangsawanan, hijau simbol kemakmuran dan agama, warna hitam simbol kepahlawanan, warna putih sebagai simbol kesucian. Motif 4 anak tangga mengandung makna tersendiri; anak tangga pertama bermakna hukum, anaktangga kedua bermakna adat, anak tangga ketiga bermakna qanun, tangga keempat bermakna resam. Semuanya adalah pedoman hidup social masyarakat yang dipegang oleh masyarakat. Sementara itu, ragam hias yang terdapat pada kupiah riman diantaranya adalah motifpucok rebong (pucuk rebung), bungong puteng, bungong campli dan ceulangiek ceunu, semuanya diambil dari tanaman yang mudah diperoleh di Pidie. Semua nya merupakan gambaran hubungan antara Tuhan dan hambanya, hubungan antara pemimpin dengan masyarakatnya, dan hubungan antar sesame masyarakat.
Disetujui Oleh Ronggo Utomo Hardyanto Pada Tanggal 23-12-2021
Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=2488