Nyakan Diwang adalah suatu kegiatan memasak yang dilakukan di luar pekarangan rumah di depan pintu pekarangan pada saat Ngembak Geni. Budaya Nyakan Diwang di desa Adat Kayuputih adalah merupakan warisan budaya yang dilaksanakan dari jaman dahulu sampai sekarang. Tradisi dimaksud dilaksanakan berdasarkan konsep “ Nyepiang Karang “ , yakni nyepiang karang suci seperti Pura, Panti, pemerajan dan pekarangan Rumah. Yang diawali dengan proses mebuwu-buwu dan memereikkan tirta sesepen (Tirta yang didapat dari desa Adat) pada saat tilem kesanga.
Proses pelaksanaan penyepian di Desa adat Kayuputih adalah sebagai berikut :
1.Melasti ke Segara
Dilaksanakan tiga hari atau satu hari sebelum Tilem Kesangan, untuk menganyut malaning jagat dan memohon tirta pemarisuda
2.Mecaru dan me Buwu-buwu
a)Pada saat Tilem kesanga dilaksanakan pecaruan di tengah-tengah desa, untuk memohon tirta sesepen.
b)Sebelum sandi kala, warga masyarakat mempersiapkan kelengkapan nyakan diwang dengan membuat tungku ( Pawon ) di depan pintu pekarangan
c)Pada saat sandikala dilaksanakan mebuwu-buwu dan memerekkan tirta sesepen di penataran Prahyangan dan pekarangan rumah.
Nyipeng
Nyipeng di desa Adat Kayuputih dilaksanakan selama satu hari (24Jam) di mulai dari pukul 00:00 WITA setelah pecaruan yang di tandai dengan suara kulkul, sampai pukul 00:00 WITA keesokan harinya yang ditandai dengan suara kulkul.
Pada saat sipeng , untuk menjaga kesucian karang setelah mebuwu-buwu dan dipereiki tirta sesepen, bagi anggota keluarga yang tidak bisa melaksanakan catur brata penyepian, diperkenankan untuk keluar pekarangan dengan mencari tempat yang dekat dengan air seperti pinggir sungai, untuk melakukan aktivitas.
Ngembak Geni
Pelaksanaan ngembak geni diawali dengan suara kulkul pada pukul 00:00 WITA sehari setelah pecaruan. Ngembak geni di awali dengan menyalakan api pada pawon ( tungku) yang sudah di buat di depan pintu pekarangan yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan memasak. Inilah yang dimaksud “Nyakan Diwang”
Secara filosofi, makna yang terkandung dari nyakan diwang adalah dengan kekuatan api yang dinyalakan di depan pintu pekarangan, diyakini dapat menetralisir pengaruh-pengaruh negative di luar pekarangan sehingga tidak mengganggu kesucian pekarangan sebelum dipergunakan sebagai tempat melaksanakan kegiatan keseharian.
Disamping itu dari sudut pandang social kemasyarakatan,
Nyakan Diwang dilaksanakan sebagai ajang silaturahmi dari ungkapan rasa syukur dan untuk memupuk rasa persaudaraan antar sesama warga masyarakat atas keberhasilan pelaksanaan nyepiang karang, yang dilakukan dengan saling menukar masakan yang sudah di buat serta saling memaafkan atas kesalahan yang sengaja atau tidak sengaja yang pernah dilakukan