Busana yang resmi harus dikenakan dalam pesta perkawinan oleh ibunda kedua
calon/ pengantin adalah kebaya krancang yang dibuat model kartini dengan ujungnya
yang sondai (meruncing ke bawah di bagian depan 20 cm – 30 cm dari bagian datar di
pinggul. Atau bisa juga berbentuk Kebaya Panjang Nyak Betawi, yang bawahnya datar
sebatas 3 cm sampai 5 cm di atas lutut yang disebut kebaya panjang.
Sejarah membuktikan bahwa segala bentuk kerajinan tangan yang unik dan
penuh karya seni yang indah dahulu kala diwariskan dari suku dan bangsa yang datang
tanah Betawi. Hal ini dimungkinkan karena Pelabuhan Sunda Kelapa kawasan hunian
pesisir dengan segenap corak kehidupannya. Harus diakui bordir krancang merupakan
hasil kreasi seni wanita Betawi yang diadaptasi dan kristalisasi budaya yang datang
dan menetap itu. Bisa saja berasal dari Cina, Arab, Belanda, Portugis dicampur dengan
kemampuan pengolahan dan imajinasi masyarakat Betawi. Bahan kebaya itu dibordir
krancang dengan motif kembang pada bagian yang sondai dan pada pergelangan tangan.
Para penggunaan busana ini biasanya menjadi pendamping pengantin dalam
pesta perkawinan. Kelengkapannya sebagai berikut:
• Tata rias wajah menggunakan bedak yang disesuaikan dengan warna kulit
pemakai dan busananya sementara rias mata tidak diperkenankan menggunakan
cat eye atau fancy look.
• Sanggulnya dengan model yang dinamakan konde bunder.
• Menggunakan kain sarung batik Betawi, Lasem dan Cirebonan dengan kepala
kain berbentuktumpal, tombak, buket, susur dan sebagainya.
• Alas kaki, selop tutup bertatahkan emas permata yang sekarang diganti dengan
mote atau juga polos.
Perhiasan yang dikenakana, antara lain; anting seketel atau giwang asur, gelang
listering atau gelang ular, cincin bermata berlian, dan kalung tebar (kalung dapat
diganti dengan peniti tag atau peniti cangrang atau peniti rante tiga bahkan bisa juga
dengan kalung rante polos biasa berliontin). Keserasian menjadi unsur penting bagi
pemakaiannya. Sebagai tambahan dapat dikatakan, peniti rante tiga dan kalung liontin
biasanya dipakai oleh ibu-ibu muda usia sementara peniti tag atau peniti cangkrang
umumnya dipakai oleh ibu-ibu diatas usia lima puluhan tahun.
Namun pada perkembangan di masa sekarang ini, orang lebih mementingkan
selera daripada batasan-batasan tradisi yang hingga kini banyak yang belum bisa
diungkapkan maksud dan maknanya itu. Mungkin karena pergaulan atau gaya hidup
perempuan metropolitan memberikan keleluasaan bagi pemakainya atau karena mode.