Lintang: -8.4642283
Bujur: 115.6307500
Lokasi Taman Sukasada terletak di pesisir selatan Kabupaten Karangasem yang lebih dikenal dengan nama Taman Ujung dekat dengan pantai Desa Tumbu.
Taman ini merupakan taman yang luas dan terdiri dari dua halaman yang di batasi dengan sungai kecil di bagian timur. Taman ini memiliki tiga buah pintu masuk yang berada di sebelah barat (berbatasan langsung dengan jalan umum), di sebelah selatan (juga berbatas langsung dengan jalan umum), serta di sebelah timur yang merupakan jalur penghubung tempat parkir pengunjung dengan halaman utama taman yang dihubungkan dengan sebuah jembatan dengan bentuk dan karakteristik yang sama dengan bangunan utama.
Taman ini berjarak 5 km arah tenggara dari Kota Amlapura. Awalnya taman ini memiliki luas hampir 400 hektar tetapi sekarang hanya sekitar 10 hektar karena tanah tersebut sebagian besar telah dibagikan kepada masyarakat pada masa landreform.
Lokasi taman ini sangat strategis dan dibangun di tengah pemandangan alam yang sangat eksotik. Memadukan unsur hasil karya cipta manusia dengan keindahan lingkungan alam. Paduan itu merupakan air yang ditampung dalam empat kolam, lingkungan binaan gunung, dan laut. Air kolam di Taman Sukasada ini menggunakan sumber mata air yang ada di lokasi pertamanan dan sebagian air di pancuran patung warak berasal dari air tirisan sawah yang ada hulunya.
Taman Sukasada dahulunya merupakan tempat pembuangan yang diberi nama Kolam Dirah.Lalu fungsi tempat pembuangan berubah ketika raja Karangasem memerintahkan arsitek Belanda dan Tiongkok yang bernama Van Den Hentz dan Loto Ang yang juga dibantu arsitek dari kerajaan untuk membangun tempat peristirahatan di lokasi tersebut.
Ditengah taman dibangun sebuah bangunan yaitu Balai Kambang yang dikelilingi oleh kolam yang airnya jernih. Bangunan ini tampak seperti rumah terapung. Dipinggirnya dihiasi dengan pohon kembang yang beraneka ragam. Disekitar taman ini diisi dengan pohon buah mangga, manggis, dan sawo. Di lereng-lereng bukit yang terletak di sisi barat taman dihiasi dengan kebun bunga yang berteras. Terdapat juga bongkahan batu alam yang besar.
Di halaman dalam taman terdapat dua buah balai kambang, satu balai kapal, balai bundar, balai tempat istirahat pengunjung, gedung Badan Pengelola Taman Ujung, serta tempat suci berupa padmasana yang berada di timur laut taman ini.
Hal yang menarik dari kompleks bangunan tersebut yaitu perpaduan tiga unsur budaya yaitu Bali, Belanda, dan Cina sehingga melahirkan kekhasan arsitekturnya. Arsitektur Bali terlihat jelas pada motif dekorasinya berupa cerita-cerita wayang serta motif patra lainnya, arsitektur Belanda terlihat pada bentuk bangunannya yang memiliki gaya indis, dan arsitektur Cina terlihat pada pembuatan gapura masuk, kolam segidelapan, dan Bale Bundar (gasebo).
Terdapat beberapa bangunan yang memiliki fungsi berbeda-beda.Keletakannya berturut-turut dari arah utara ke selatan sebagai berikut:
a. Pura dan Kolam Manikan
b. Bale Warak
c. Bale Lunjuk
d. Bale Kapal
e. Bale Gili, 2 buah bangunan kanopi serta jembatan penghubung
f. Bale Bundar
g. Tempat tiang bendera kerajaan
h. Kolam segidelapan dan air mancur
i. Bale Kambang dan jembatan penghubung
j. Tiga pintu masuk di sisi barat, selatan, dan timur.
Secara kosmologi, Taman Ujung Karangasem merupakan pertemuan antara gunung dan laut yang masing-masing terwakili oleh Gunung Lempuyangan di sebelah timurlaut, Gunung Agung di sebelah barat, dan laut atau Selat Lombok di sebelah Timurnya yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Konsep gunung-laut sangat dihormati dan sering diterapkan pada masyarakat tradisional di Nusantara. Konsep ini dapat diartikan sebagai tempat memutaran mandalagiri dalam pencarian air kehidupan atau sebagai tempat pertemuan antara penguasa gunung dan penguasa lautan sehingga menghasilkan kemakmuran (kehidupan) pada bumi. Konsep tersebut secara simbolis dapat diwujudkan dalam 4 buah kolam di Taman Ujung Karangasem tersebut.
Taman ini diresmikan dengan sebuah ‘mahligya’ yang ditandai dengan sebuah prasasti batu marmer yang ditulis dengan huruf latin dan Bali. Prasasti ini menggunakan dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bali. Prasasti tersebut ditempelkan pada salah satu dinding di Bale Warak. Marmer sebelah kiri bertulis huruf latin berjumlah 8 baris berbunyi:
Peringatan
Waktoe kerja
Dewa jadnya
Maligya
Poeri Agung
Kawan Karangasem
Tanggal
6 Agustus 1937
Sedangkan marmer sebelah kanan dengan aksara dan Bahasa Bali berbunyi:
Pekeling daweg rahina karyya dewwa yajna
miwah malighya rin puri agung kawan karanase
m, duk rahina, su, pa, wara prabakat, pan pin
m, sasih, 2, usaka 1859 maka li
nga rin malighya, padhandha ghde ktut karanase
da hanake hangun ghde hanlurah ktut karangase
m raja lombok, miwah hida hanake hagun
ghde jlanthik, jumnen hagun ring karanasem.
Kepemilikkan taman ini sekarang sudah diwariskan kepada ahli waris keluarga Puri Karangasem. Sehingga statusnya menjadi taman milik pribadi tetapi pengunjung umum diperbolehkan mengunjungi taman megah ini.