Lintang: -1.2013483
Bujur: 113.0625350
Bangunan Huma Gantung Intan Sari Tumbang Atei dapat ditempuh melalui perjalanan darat dari Kota Kasongan, Ibukota Kabupaten Katingan. Selain akses jalan darat, untuk menuju lokasi juga dapat melewati jalur Sungai Katingan dengan waktu tempuh 4 sampai 5 jam, sedangkan melalui jalan darat waktu tempuhnya kurang lebih 3,5 jam. Pada saat ini, akses melalui sunhgai bukan menjadi priotas utama, walaupun jalan darat menuju Desa Tumbang Atei masih dalam kondisi jalan tanah dan cukup sulit dilalui oleh kendaraan roda khususnya saat musim penghujan.
Desa Tumbang Atei berada di sebelah Selatan muara Sungai Mantikei dan sebelah Timur Sungai Katingan. Sungai Mantikei juga memiliki potensi arkeologis yang cukup besar, yaitu terkait dengan produk besi kuno “Sanaman Mantikei(Besi Mantikei). Dalam catatan perjalanan Calm Schwaner (1854) dikatakan bahwa baik Besi Mantikei maupun Besi Montalat (Barito) sangat diminati terutama oleh para pedagang China dikarenakan kualitasnya yang di atas rata-rata produk besi masa itu. Berpatokan pada data tersebut, maka tidak menutup kemungkinan apabila Desa Tumbang Atei pernah menjadi sentra produksi logam kuno “Mantikei”.
Selain peninggalan tersebut di atas, juga terdapat bukti penyebaran pengaruh Kesultanan Banjar, yaitu makam Tamanggung Luhing yang mendapatkan mandat dari Gusti Muhammad Seman (Matseman_penamaan umum bagi masyarakat lokal) untuk menjadi pemimpin lokal di bawah perlindungan Kesultanan Banjar yang diperkirakan pada sekitar tahun 1862-1905. Oleh sebab itu, Desa Tumbang Atei merupakan wilayah potensial yang dapat dijadikan sasaran dalam penggalian sejarah masa lampau Kabupaten Katingan secara khusus dan Provinsi Kalimantan Tengah secara umum.