Lintang: .0000000
Bujur: .0000000
Sejarah Makam Eropa atau Kerkhof di Indonesia
Bangsa Eropa datang ke Indonesia sejak awal abad ke 16. Diawali oleh kedatangan bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1511. Kemudian bangsa-bangsa Eropa lainnya datang seperti Spanyol pada tahun 1521, Belanda pada 1596, dan Inggris pada tahun 1811. Belanda kemudian juga turut mendiami wilayah Indonesia. Bahkan Belanda yang paling lama menduduki dan menguasai hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Belanda kemudian membentuk pemerintahan untuk mengelola perdagangan mereka di nusantara. Tujuan Belanda adalah berdagang rempah-rempah, untuk melancarkan usahanya tersebut, kemudian dibentuk Perusahaan Hindia Timur Belanda yaitu VOC (Verenigde Oostindische Compagnie). Kehidupan Belanda di Indonesia semakin lama semakin berkembang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup orang-orang Belanda di Indonesia maka dibangun sarana-sarana penunjang seperti tempat tinggal, kantor-kantor pemerintahan, sekolah, rumah sakit, tempat peribadatan, dan juga pemakaman. Orang-orang Belanda yang tinggal Indonesia juga membutuhkan tempat untuk memakamkan diri mereka atau kerabat mereka. Pemakaman Belanda di Indonesia dikenal dengan sebutan kerkop, begitu orang Jawa menyebutnya. Kata tersebut berasal dari bahasa Belanda kerkhof yang berarti makam atau kuburan. Kerkof di Kabupaten Purbalingga terletak di sebelah tenggara perkotaan dan dikelilingi oleh persawahan. Letak makam mengindikasikan bahwa masyarakat Belanda memilih lahan yang jauh dari pemukiman untuk dijadikan pemakaman atau begraafplaatsen. Ukuran situs ini seluas 2.397 m².
Kerkop Purbalingga tercatat ada 116 Struktur Cagar Budaya. Sebanyak 115 diantaranya merupakan struktur makam atau begraafplaatsen dan sepasang struktur berupa portal. Situs Kerkop Purbalingga ini sebagian besar makam berorientasi ke barat atau nisan bisa dibaca dari arah barat. Sebagian makam ada yang berorientasi ke timur atau nisan bisa terbaca dari arah timur. Meski demikian patok penomoran makam keseluruhannya menghadap ke timur.