Lintang: .0000000
Bujur: .0000000
Berupa tatanan batu yang jika diamati seperti sebuah arca. Batu bagian atas membentuk (seolah-olah sebagai) kepala, dan batu yang bawah (seolah-olah sebagai) membentuk badan hingga kaki. Arca tersebut berada pada salah satu sudut (timur laut) tatanan batu/pagar batu yang membentuk persegi. Dari pagar batu ini terdapat celah sebagai akses masuk pada bagian selatan. Ukuran struktur pagar batu yaitu 3,5 x 3,5 meter dengan tinggi 3- cm, struktur ini memiliki berbagai nama lokal, diantaranya, Arca Batu Onje Bukut dan Petilasan Ki Kantharaga. Struktur ini memiliki cerita rakyat atau Folklore dari masyarakat desa setempat (Desa Onje, Kecamatan Mrebet). Folklore ini bertahan secara turun temurun dan dipegang teguh oleh masyarakat. Meski dalam manuskrip yang ada, yakni Babad Onje tidak turut menerangkan cerita yang sama dengan folklore ini, justru ‘bisa’ saling melengkapi cerita di dalamnya. Sebab antara folklore dengan babad di sini tidak terjadi pertentangan. Struktur ini lebih tepat disebut sebagai petilasan, daripada arca, kajian arkeologis batu dalam struktur ini merupakan murni bentukan alam sebab tidak ada tanda-tanda bekas pemangkasan ataupun pahatan. Namun demikian batu ini kemudian (diduga) ditata/disusun oleh manusia.
Mengenai pertanggalan penyusunan batu tersebut, jika mengikuti folklore dan Babad Onje yang ada maka merujuk pada garis waktu masa pemerintahan Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yakni sekitar pertengahan abad 16 Masehi. Dengan kata lain berada dalam babak Sejarah Kesultanan Islam. Namun secara ilmiah belum diketahui jelas kapan dilakukan. Sisi lain, para arkeolog juga menilai babak Sejarah Kesultanan Islam ini ditandai tidak dipopulerkan lagi adanya pembuatan arca atau patung-patung karena di pandang sebagai unsur berhala yang ditolak dalam ajaran Islam.