Lintang: -7.9167340
Bujur: 110.4065460
Makam Giriloyo berada di atas Perbukitan Giriloyo,
letaknya di sebelah utara Bukit Merak/Makam Pajimatan.
Lokasi makam dapat dicapai dengan berjalan melalui
tangga ke utara. Pada awal perjalanan ini akan ditemui
masjid makam (masyhad) yang berada di sisi barat.
Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki tangga ke arah utara
menuju makam. Setelah tangga teratas, terdapat jalan ke
arah sisi kiri (barat) dan kanan (timur). Jalan sisi kiri
menuju makam sayap kiri (barat) tempat makam Ratu
Pembayun/Pengayun dan yang lain, jalan ke kanan menuju
makam Sultan Cirebon. Selain itu terdapat makam lain
yang berada di luar pagar keliling.
Makam sayap kiri (barat) berada paling tinggi di
antara makam-makam lainnya, sehingga untuk menuju
lokasi makam harus melewati 25 anak tangga yang terbuat
dari semen. Makam sayap kiri dikelilingi pagar dari tembok
bata berplester, dengan tinggi 1,5 m, tebal tembok 80 cm, di
setiap sudut diberi pilar dengan ukuran dimensi 1 m x 1 m,
dan diberi hiasan buah keben. Pagar berdiri di atas talud
yang terbuat dari tatanan batu putih polos tanpa dilapisi
semen. Pada beberapa bagian talud terdapat lubang yang
digunakan sebagai jalan keluarnya air. Talud di sisi timur
laut dan barat laut mengalami keretakan struktur karena
tanahnya longsor.
Sebelum masuk ke kompleks makam sisi barat
terdapat pintu/gapura paduraksa, tetapi bagian atap gapura
telah runtuh. Daun pintu gapura semula terbuat dari kayu
jati, tetapi karena rusak maka ditambah pintu yang terbuat
dari besi.
Di dalam pagar keliling makam sayap kiri terdapat
beberapa buah nisan dengan keletakan tiap-tiap nisan
berbeda ketinggiannya. Posisi tertinggi di kompleks ini
adalah jirat makam Ratu Pambayun/Pengayun, istri
Amangkurat I. Posisi ketinggian makam kedua ditempati
oleh makam Ratu Mas Hadi (Ibu Sultan Agung),
Panembahan Juminah (paman Sultan Agung), Pangeran
Mangkubumi, Pangeran Sokowati, Ratu Marto Soko, dan
Pangeran Haryo Martono. Posisi makam lainnya lebih
rendah keletakannya. Di kompleks makam sayap kiri,
nisan-nisan makam utama terbuat dari batu andesit dan
terawat dengan baik. Beberapa nisan yang berada di teras
yang lebih rendah mengalami kerusakan dan terpendam
tanah yang terbawa air hujan dari teras di atasnya. Di dalam
kompleks makam sayap kiri terdapat tumbuhan perindang
seperti kayu putih, kayu manis, cendana, dan pohon sirsat.
Tokoh yang dimakamkan di sayap kanan (timur)
antara lain Kyai Ageng Giring, Kyai Ageng Sentong, dan
Sultan Cirebon V. Makam Kyai Ageng Giring dan Kyai
Ageng Sentong berada dalam satu ruang sendiri.
Permukaan tanah kedua makam lebih tinggi, dikelilingi
pagar berukuran 4,23 m x 3,95 m, tinggi 70 cm terbuat dari
susunan bata tanpa perekat. Tangga masuk makam berada
di sisi selatan. Kondisi tatanan bata pagar di beberapa
bagian sudah tidak teratur lagi dan ditumbuhi semak serta
pepohonan.
Sultan Cirebon merupakan ahli waris Sunan
Gunungjati. Nama lain Sultan Cirebon yaitu Panembahan
Giriloyo atau Syeh Abdul Karim. Nisan makam Sultan
Cirebon V terbuat dari tatanan batu andesit berhias baik
jiratnya maupun nisannya. Ornamen maupun tulisan pada
batu nisan tidak dapat dilihat karena tertutup kain mori.
Makam Sultan Cirebon V diberi tambahan struktur dinding,
lantai keramik, dan atap.
Makam di luar pagar keliling antara lain makam
Kyai Juru Wiro Probho (arsitek yang membangun Makam
Giriloyo), Raden Ayu Nerang Kusumo, makam para
prajurit, makam-makam kerabat, dan tokoh masyarakat.
Makam Kyai Juru Wiro Probho terletak di atas permukaan
tanah yang ditinggikan. Di bagian luar diberi tatanan bata
tanpa perekat. Jirat tersusun dari balok-balok bata tanpa
perekat dengan hiasan puncak berbentuk kurawal. Di
sebelah utara makam Kyai Juru Wiro Probho terdapat tiga
buah batu yang dipercaya berasal dari Arab yang digunakan
untuk tempat duduk raja (selo tilas palenggahan Dalem).
Ketiga batu tersebut diletakkan di atas tatanan bata tanpa
perekat yang disusun tinggi seperti piramida.
Makam Giriloyo berada di atas Perbukitan Giriloyo,
letaknya di sebelah utara Bukit Merak/Makam Pajimatan.
Lokasi makam dapat dicapai dengan berjalan melalui
tangga ke utara. Pada awal perjalanan ini akan ditemui
masjid makam (masyhad) yang berada di sisi barat.
Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki tangga ke arah utara
menuju makam. Setelah tangga teratas, terdapat jalan ke
arah sisi kiri (barat) dan kanan (timur). Jalan sisi kiri
menuju makam sayap kiri (barat) tempat makam Ratu
Pembayun/Pengayun dan yang lain, jalan ke kanan menuju
makam Sultan Cirebon. Selain itu terdapat makam lain
yang berada di luar pagar keliling.
Makam sayap kiri (barat) berada paling tinggi di
antara makam-makam lainnya, sehingga untuk menuju
lokasi makam harus melewati 25 anak tangga yang terbuat
dari semen. Makam sayap kiri dikelilingi pagar dari tembok
bata berplester, dengan tinggi 1,5 m, tebal tembok 80 cm, di
setiap sudut diberi pilar dengan ukuran dimensi 1 m x 1 m,
dan diberi hiasan buah keben. Pagar berdiri di atas talud
yang terbuat dari tatanan batu putih polos tanpa dilapisi
semen. Pada beberapa bagian talud terdapat lubang yang
digunakan sebagai jalan keluarnya air. Talud di sisi timur
laut dan barat laut mengalami keretakan struktur karena
tanahnya longsor.
Sebelum masuk ke kompleks makam sisi barat
terdapat pintu/gapura paduraksa, tetapi bagian atap gapura
telah runtuh. Daun pintu gapura semula terbuat dari kayu
jati, tetapi karena rusak maka ditambah pintu yang terbuat
dari besi.
Di dalam pagar keliling makam sayap kiri terdapat
beberapa buah nisan dengan keletakan tiap-tiap nisan
berbeda ketinggiannya. Posisi tertinggi di kompleks ini
adalah jirat makam Ratu Pambayun/Pengayun, istri
Amangkurat I. Posisi ketinggian makam kedua ditempati
oleh makam Ratu Mas Hadi (Ibu Sultan Agung),
Panembahan Juminah (paman Sultan Agung), Pangeran
Mangkubumi, Pangeran Sokowati, Ratu Marto Soko, dan
Pangeran Haryo Martono. Posisi makam lainnya lebih
rendah keletakannya. Di kompleks makam sayap kiri,
nisan-nisan makam utama terbuat dari batu andesit dan
terawat dengan baik. Beberapa nisan yang berada di teras
yang lebih rendah mengalami kerusakan dan terpendam
tanah yang terbawa air hujan dari teras di atasnya. Di dalam
kompleks makam sayap kiri terdapat tumbuhan perindang
seperti kayu putih, kayu manis, cendana, dan pohon sirsat.
Tokoh yang dimakamkan di sayap kanan (timur)
antara lain Kyai Ageng Giring, Kyai Ageng Sentong, dan
Sultan Cirebon V. Makam Kyai Ageng Giring dan Kyai
Ageng Sentong berada dalam satu ruang sendiri.
Permukaan tanah kedua makam lebih tinggi, dikelilingi
pagar berukuran 4,23 m x 3,95 m, tinggi 70 cm terbuat dari
susunan bata tanpa perekat. Tangga masuk makam berada
di sisi selatan. Kondisi tatanan bata pagar di beberapa
bagian sudah tidak teratur lagi dan ditumbuhi semak serta
pepohonan.
Sultan Cirebon merupakan ahli waris Sunan
Gunungjati. Nama lain Sultan Cirebon yaitu Panembahan
Giriloyo atau Syeh Abdul Karim. Nisan makam Sultan
Cirebon V terbuat dari tatanan batu andesit berhias baik
jiratnya maupun nisannya. Ornamen maupun tulisan pada
batu nisan tidak dapat dilihat karena tertutup kain mori.
Makam Sultan Cirebon V diberi tambahan struktur dinding,
lantai keramik, dan atap.
Makam di luar pagar keliling antara lain makam
Kyai Juru Wiro Probho (arsitek yang membangun Makam
Giriloyo), Raden Ayu Nerang Kusumo, makam para
prajurit, makam-makam kerabat, dan tokoh masyarakat.
Makam Kyai Juru Wiro Probho terletak di atas permukaan
tanah yang ditinggikan. Di bagian luar diberi tatanan bata
tanpa perekat. Jirat tersusun dari balok-balok bata tanpa
perekat dengan hiasan puncak berbentuk kurawal. Di
sebelah utara makam Kyai Juru Wiro Probho terdapat tiga
buah batu yang dipercaya berasal dari Arab yang digunakan
untuk tempat duduk raja (selo tilas palenggahan Dalem).
Ketiga batu tersebut diletakkan di atas tatanan bata tanpa
perekat yang disusun tinggi seperti piramida.
- SD NEGERI NGASINAN (1 km)
Nogosari II, Wukirsari,imogiri, Bantul, DIY - SMA NEGERI 1 IMOGIRI (1.7 km)
JL. Imogiri Timur Km 14 - SD NEGERI MANGUNAN (2.07 km)
Mangunan, Mangunan, Dlingo - SD NEGERI PUCUNG (2.09 km)
Pucung, Wukirsari, Imogiri - SD NEGERI PUNDUNG (2.13 km)
Kradenan, Girirejo,imogiri
|